Bolehkah Suami Istri Mandi Junub Bersama? Perhatikan Ini dulu!
Islam mengajarkan segala sesuatunya dengan benar
lengkap dan sempurna, tanpa menghalang-halangi kebenaran meski dengan alasan
apapun. Karena hal ini sangat penting untuk diketahui.
Para pasutri jangan ragu untuk melakukan mandi junub
bersama, sebagaimana hadits Rasulullah:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang
seorang perempuan mandi dari sisa laki-laki atau seorang laki-laki mandi dari
sisa perempuan. Namun hendaklah mereka mandi berbarengan (lewat wadah yang
sama).” (HR. Abu Daud no. 81 dan An Nasai no. 239. Al Hafizh Abu Thohir
mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).
Hadits ini memperlihatkan bahwa antara suami istri
boleh memandang satu dan lainnya, tidak ada batasan aurat antara keduanya.
Hal ini berbeda dengan pendapat sebagian ulama yang
mengatakan bahwa aurat antara suami istri adalah kemaluan, sehingga tidak boleh
suami atau istri memandang kemaluan pasangannya. Ini adalah pendapat lemah dan
terbantah dengan hadits di atas.
Satu hal lagi, larangan mandi dari sisa istri yang
disebutkan dalam hadits di atas adalah larangan ta’dib, bimbingan untuk
melakukan yang lebih baik. Jadi bukan maksudnya adalah larangan haram.
Karena dalam hadits lain disebutkan bahwa Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi dari sisa istrinya, seperti dari bekas
mandi Maimunah.
Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Sebagian istri Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mandi di satu wadah besar. Lalu datang
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau mengambil air dari sisa mandi
istrinya, atau beliau berkeinginan untuk mandi. Maka salah satu istrinya
berkata, “Wahai Rasulullah, aku tadi junub (dan itu sisa mandiku, pen).
Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda: Sesungguhnya air itu
tidak terpengaruh oleh junub.”
(HR. Abu Daud no. 68, Tirmidzi no. 65, dan Ibnu Majah
no. 370. Tirmidzi menshahihkan hadits ini).
Tentu saja, ada hal-hal yang perlu diperhatikan ketika
mandi bersama:
1. Tidak diketahui anak
Tentu akan bingung dan panjang dalam menjelaskan pada
anak, mengapa orangtuanya mandi bersama.
Jika mandi junub dilakukan ketika anak sudah terlelap
atau sedang tidak di rumah, akan lebih baik.
2. Tidak sampai mengganggu orang lain/ tetangga
Mandi bersama hingga riuh di dalam kamar mandi tentu
kurang pas dilakukan jika rumah kita berdempetan dengan rumah tetangga.
Sehingga memungkinkan tetangga mengetahui aktivitas
mandi bersama yang dilakukan pasutri.
Semoga bermanfaat,
Baca Artikel menarik lainnya di -> http://nisrina.co.id/blog/
Nisrina Peduli Wanita!




